Lately, Buku Pemrograman == Buku Resep

Hari ini saya punya kesempatan ngobrol kembali dengan guru saya. Seorang JAVA programmer paling hebat yang pernah saya kenal. Seorang yang lebih memilih ketak ketik daripada drag and drop atau klik sana, klik sini di IDE. Seorang yang hingga saat ini belum pernah menggunakan Netbeans. Seorang yang lebih memilih menulis sendiri JAVA framework untuk para konsumen-nya ketimbang menggunakan framework yang telah ada. Intinya, seorang yang ‘old-fashioned‘ atau lebih tepatnya ‘konvensional’ 🙂 However, itulah yang membuat beliau hebat dan faham betul JAVA “luar dalam”.

Percakapan diawali dengan sapaan yang biasa beliau lontarkan ke saya, “Lagi opo, nduk?” Saya pun menjawab bahwa saya sedang mengajar, kemudian saya bercerita bahwa dalam mengajar JAVA, saya masih menggunakan buku JAVA SL-275 keluaran Sun, dan tutorial-tutorial yang dahulu saya dapatkan ketika saya masih belajar bersama beliau. Kemudian beliau berkomentar, buku materi dasar-dasar JAVA yang baik sepanjang pengetahuan dia adalah:
1. JAVA SL-275
2. Bruce Eckel – Thinking in Java (http://www.mindview.net/Books/TIJ/)
3. Josh Bloch – Effective Java

Beliau berkata “saya tidak cocok dengan buku-buku pemrograman yang banyak beredar di toko-toko buku jaman sekarang, buku-buku tersebut tak ubahnya seperti buku resep masakan saja…”

Beliau melanjutkan, “Buku resep hanya menampilkan nama masakan, nama bahan dan bagaimana cara membuatnya, tanpa menjelaskan bahwa cabai itu pedas, garam itu asin, intinya bersifat instan, tanpa konsep…”

Saya pun berpikir, apa yang beliau sampaikan memang benar. Buku-buku pemrograman yang beliau maksudkan memang seperti buku resep. Intinya, minim konsep. Tetapi kenapa buku-buku tersebut laku keras? Bahkan ada yang direvisi dan dicetak ulang setiap tahun, dan tetap laku! Guru saya pun punya jawabannya, “Jaman sekarang jarang-jarang ada orang belajar pemrograman yang orientasinya konsep. Sekarang semuanya mau cepat, serba instan.” Saya setuju dengan hal tersebut. Hal yang kemudian terlintas dalam benak saya adalah ‘kenapa’?

Beberapa kemungkinan yang terlintas di benak saya adalah:
Pertama, ada tuntutan deadline waktu pembuatan aplikasi. Mahasiswa yang diminta membuat sebuah aplikasi sebagai tugas mata kuliah, kebanyakan akan memilih membeli buku-buku instan tersebut. Hal ini karena pengetahuan tentang konsep membutuhkan waktu yang lebih lama, sedangkan mereka dibatasi deadline oleh dosennya. Maka orientasi para mahasiswa tersebut adalah, yang penting aplikasi jadi.
Kemungkinan kedua, berkaitan dengan perubahan lingkungan dan kultur. Hal ini cukup kompleks untuk dibahas, karena bersifat multidimensi. Bahkan, secara tak sadar, hal-hal kecil yang ada di jaman sekarang, contohnya tayangan televisi pun, secara tidak langsung telah mendidik masyarakat untuk lebih menyukai hal-hal yang serba instan.

Then… Bahkan saya mulai berpikir, blog saya ini -pun jangan-jangan menurut beliau juga seperti buku resep. Sepertinya saya harus merombak tulisan-tulisan saya disini agar lebih menekankan konsep ketimbang langkah-langkah praktis.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *